FILOSOFI KERIS

Bengawan Candhu

“AUM AWIGHNAMASTU, HANATA SIRA INARCAYA, YEKA SARA ULUN, ULUN YUN MIMINTA, INGGITA DE INAGRUHAN RI ANDIKA” YANG ARTINYA,

“YA,TUHAN SEMOGA TIDAK ADA HALANGAN. ADALAH PUSAKA YANG DIHORMATI, IALAH PUSAKAKU, HAMBA INGIN MEMOHON SYARAT TANDA-TANDA DIBERI NUGRAHA YANG BAIK”.

Menyambut ultah KWA yg ke 4 ini,kami dr salah satu kepingan kecil dari keluarga kwa ingin mengucapakan selamat ulang tahun kwa yg ke 4,semoga tetap menjadi sarana dan wahana silaturahmi yang membawa berkah danmanfaat bagi kita semua dan segenap sohibul bait. Dan pada kesempatan ini,kami bermaksud  berbagi share saja buat semua sedulur2 disini,terutama dibabagan tosan aji atau pusaka,mumpung masih hangatnya pengechasan dan pembangkitan sabda doa dan aura pusaka di kwa sidoarjo. Dan mohon maaf,ini bukan bermaksud mengunggulkan keris di jawa atau filosofinya kok cenderung ke jawa,karena memang ini sebatas pemahamn kami yg cetek dan masih muda,sehingga sudut pandang kami masih sangat terbatas. Semoga pada kesempatan yang lain bisa kami lengkapi dan kami tambahkan,atau bahkan ada sedulur yg berkenan meng share dengansudut pandang berbeda dan lebih lengkap kembali.

1)Keris filosofi secara jarwo dosok,atau makna dari pemenggalan kata.

Keris

Kata ini dapat kita jarwa dosok-kan ke dalam dua suku kata sebagaimana yang dijabarkan berikut ini.

Ke … dari asal kata … kekeran, yang mempunyai arti; pagar, penghalang, peringatan atau     pengendalian. Ris …  dari asal kata …. aris, yang mempunyai arti ; tenang, lambat atau halus.

Dengan berlandaskan pada penjabaran tersebut di atas, Sang mPu sebagai pembuat keris tersebut menginginkan agar hasil karyanya itu selalu dapat “ngeker” atau memagari dan menghalangi maupun memperingatkan juga mengendalikan sang pemilik secara “aris” atau tenang dan lambat-sabar. Artinya walaupun kita mempunyai kepandaian, kekayaan dan sejenisnya, hendaknya kita tidak “grusa-grusu”  atau tergesa-gesa untuk memamerkannya pada orang lain, agar dirinya tenar dan diketahui oleh semua orang bahwa dia mempunyai kelebihan.

Duwung

Seperti halnya kata keris tadi, kata duwung ini juga dapat dijabarkan sebagai berikut.

Du      ….  dari asal kata udu, yang berarti andil, taruhan, rela kehilangan

Wung ….  dari asal kata kuwung, yang berarti kewibawaan, kenyataan.

Curiga

Sebagaimana penjabaran sebelumnya, curiga juga dapat dijarwa dosok-kan sebagai berikut.

Curi … dari asal kata padas curi, yang dapat diartikan sebagai; batu runcing, juga tempat berbahaya.

Ga    … dari asal kata raga, yang mempunyai arti badan wadag atau jasmaniah.

Penjabaran dari persenyawaan rasa di atas dapat diterangkan sebagai berikut. Padas curi (batu-batu runcing) jika diletakkan pada tempatnya akan menjadi pemandangan yang elok untuk dilihat. Akan tetapi jika padas curi tersebut diletakkan sembarang tempat akan menjadi tempat yang berbahaya bagi badan wadag  manusia.

Berawal dari deskripsi tersebut, dapat kita ambil makna bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini  sudah diatur oleh “Rta” ,hukum alam abadi. Semua sudah diatur oleh Arsitek Alam, Tuhan itu sendiri. Mulai dari tata surya, galaksi, bintang-bintang, hingga tata letak bumi. Semua itu sudah diatur berdasarkan arsitektur yang maha canggih sehingga membentuk integrasi alam yang selaras dan harmonis. Namun kadang kala manusia  sebagai makhluk yang tidak pernah puas dengan apa yang diterimanya selalu membuat kekacauan alam dengan merubah tatanan yang sudah digariskan oleh Rta tersebut.

Perincian rasa yang berbobot seperti tertera di atas, menjadi kenyataan bahwa para mPu adalah manusia yang rela kehilangan ilmu (energi/kekuatan)-nya untuk ikut udu atau andil demi kewibawaan hasil karyanya, sehingga dengan andil para mPu tadi duwung (keris) yang bersangkutan mempunyai kekuatan yang luar biasa yang juga dapat mengalirkan vibrasi kewibawaan itu pada sang pemilik keris. Dan hal ini, pada jaman dahulu untuk mendapatkan keris yang bertuah itu tidak bisa dibayar dengan segudang harta. Karena calon pemilik keris tersebut biasanya harus melakukan tapa, brata, yoga atau samadhi untuk mendapatkan keris yang sudah “berkuwung” sebagaimana para mPu juga melakukannya untuk memberikan kekuatan pada kerisnya.

2)Keris mengajarkan kita buat menyimpan atau mengesampingkan ego dan amarah. Kita tentu sering melihat bahwa pada waktu kita jagongan temanten,atau bhkn temanten sendiri atau bahkan keluarga keraton dan para abdi dalem dalam mengenakan pusaka diletakkan dibelakang punggung,ini dimaksudkan secara tersirat dan tersurat dalam ajaran leluhur kita,bahwa agar kita dalam hal berfikir,berpendapat dan bertindak diharapkan dapat lebih momong,bijaksana,serta perlunya menjaga akhlak dan tepo seliro kita terhadap sesama. Karena dengan menaruh dibelakang posisi keris diharapkan kita membelakangkan emosi,ego,amarah dalam serawung,pertemanan ataupun persahabatan baik didunia nyata maupun dunia maya. Tapi tetap dengan menunjukkan ketegasan dan kesantunan juga keberanian pada tempatnya dan pada saatnya. Dan ini menunjukkan bahwa kita memiliki dan mengedepankan etika,estetika dalam pergaulan,membuat perasaan nyaman bagi rekan2 di sekitar kita.

3) Keris dan warangka sebagai filosofi dimensi spiritual. Dan bila kita sudah berbicara keris maka tentu kita tdk luput buat membicarakan warangka/sarung dari keris tsbt.  Hubungan keris dengan sarungnya secara khusus oleh masyarakat kita khususnya Jawa diartikan secara filosofis sebagai hubungan yang cukup sinergis, menyatu untuk mencapai tatanan kehidupan dunia yang harmonisan. Maka lahirlah filosofi “manunggaling kawula-Gusti”, dekat dan bersatunya hamba dengan rajanya,dekat dan  bersatunya insan kamil dengan Sang Penciptanya, bersatunya rakyat dengan pemimpinnya, sehingga kehidupan selalu aman damai, tentram, bahagia, sehat sejahtera. Karena masing sudah mengetahui tugas dan kewajibannya. Dimana manusia, selain saling hormat menghormati,tepo seliro,mawas diri antara yang satu dengan yang lainnya, juga harus tahu diri untuk berkarya sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing secara benar dan bertanggung jawab.

4) Keris sendiri dalam kultur Jawa dipandang dan diperlakukan sebagai simbol dan juga status bagi pemiliknya. Hampir setiap keluarga aristokrat Jawa, dapat dipastikan mereka memiliki keris pusaka keluarga, yang memiliki keampuhan-keampuhan yang khas atau keistimewaan khusus dalam dapur,ricikan,maupun katiyasan atau sabda doanya.

5)Keris juga kita akui sebagai bentuk senjata. Menurut Lord Abberton of Eaton, keris pertama diciptakan oleh Raden Panji Inukertapati. Bentuk keris pada relief candi penataran berbeda dengan bentuk keris yang biasa kita jumpai, hal ini dikarenakan penyesuaian dengan perkembangan zaman. Namun corak dan gayanya menandakan sebagai senjata tikam. Dan dalam cerita purwacarita jaman pewayangan,empu yang pertama kali menciptakan keris adalah empu Ramahadi dengan tiga buah pusaka belum memakai gelar kyai tapi masih asli originalnya jadi menggunakan nama sang,3 buah karya empu ramahadi adalah sang lar ngatap,sang pasopati dan sang cundrik arum.

6) Keris dianggap sebagai peninggalan berharga dan istimewa atau bisa dianggap sebagai pusaka wasiat. Dan ini terbukti lo kangmas mbakyu,coba diingat2 kita pasti sering mendengar,apabila seseorang(orang tua kita,kakek nenek kita atau eyang eyang kita) akan tiba ajalnya atau jauh hari sebelumnya, banyak yang sudah mewasiatkan sesuatu peninggalan yang dianggap berharga semisal tanah, sawah maupun rumah, begitu pula sebilah keris, sesuatu yang paling membanggakan jika pewarisnya diberi kepercayaan untuk memeliharanya. Dan biasanya untuk pusaka2 tertentu akan dipilih keturunannya yg sekiranya orgnya sdh mantap dan matang secara lahir dan batin,agar dapat dimanfaatkan dan disimpan sebagaimana mestinya.

7). Keris sebagai lambang identitas pribadi. Sebilah keris erat kaitannya dengan identitas seseorang,terutama dalam cerita,hikayat maupun sejarah. Sebagai contoh keris empu gandring adalah kerisnya ken arok,keris naga sasra sabuk inten kerisnya mahesa jenar, keris  jaka piturun sebagai tanda Sultan di Yogyakarta, keris Kyai Setan Kober dengan Arya Penangsang, keris Kyai Pulanggeni dengan Raden Harjuna, tombak Kyai Baru dengan Ki Ageng Mangir,keris kyai carubuk kepunyaan kanjeng sunan kalijaga,keris gajah dompu adlh keris kepunyaan raja2 sisingamangaraja dan masih banyak tokoh-tokoh lain dalam legenda,cerita,hikayat,sejarah negeri ini dgn keris sebagai identitas pribadi.

8) Keris marupakan manifestasi doa dan sabda. Dalam dunia tosan aji, manusia Jawa merumuskan doa yang diwujudkan dalam sebentuk pusaka keris. Doa itu dilantunkan dalam laku, mulai tapa, matiraga, tapa bisu, dan lainnya. “Jadi keris sesungguhnya dalam filosofinya sebagai media untuk mengantarkan sugesti dari doa. Cita-cita dan harapan manusia Jawa dimantramkan dan disimpan dalam keris,seolah olah sang empu merekam dan menanam sabda dan doanya dalam sebilah keris. Yang dimana keris tsbt tidak jarang mjd sebuah keyakinan dan buku hidup.

9)Wujud keris yang lurus maupun ber-luk memiliki makna masing2,keris (berlekuk) adalah simbol kebijaksanaan,dimana bila kita hidup maka kita harus menghindari hal2 yg buruk yg bertentangan dgn hukum negara,hukum adat dan hukum ketuhanan. sedangkan keris lurus adalah simbol keteguhan prinsip,apbl kita melangkah harus mantap dan lurus dalam fikiran,perkataan dan perbuatan. Kebijaksanaan dan tekad itu harus seimbang dan akhirnya bermuara ke atas (Tuhan). Karena itu, keris ujungnya lancip,” Dan secara singkatnya,masing2 luk melambangkan filosofi sbb : Keris Lurus melambangkan kepercayaan diri dan mental yang kuat.
Keris Luk 3 melambangkan keberhasilan cita-cita.
Keris Luk 5 melambangkan : dicintai oleh banyak orang.
Keris Luk 7 melambangkan kewibawaan.
Keris Luk 9 melambangkan kewibawaan, kharisme dan kepempiminan.
Keris Luk 11 melambangkan kemampuan untuk mencapai pangkat tinggi.
Keris Luk 13 melambangkan : kehidupan stabil dan tenang.

10). Keris sebagai lambang kemapanan hidup. Bagi seorang lelaki masyarakat Jawa, hidupnya akan dikatakan paripurna/mapan/sempurna, jika telah memiliki hal2 sbb: Wisma/rumah, Wanita/istri, Turangga/kendaraan, Kukila/hewan piaraan, dan Curiga/keris. Dan kolektor  keris rata2 orangnya boleh dibilang ada budget yg bisa dianggarkan buat pemaharan pusaka2 tsbt bahakan bial diseriusi maka biaya perawatan juga perlu alokasi dana pada waktu tertentu.

11). Keris sebagai lambang status sosial. Ini bisa kita lihat pada gambar dari ukiran-tangkai keris yang mempunyai wanda atau istilah keren sekarang sebagai profil atau screen saver atau chasing, misalnya: samba keplayu, maraseba, mangkurat, yudawinatan, longok, pakubuwanan, pakucumbring dan lainnya, dimana profil tersebut disesuaikan dengan kepribadian dan kedudukan sosial sang pemakai. Begitu pula dari warna pendok kemalon: merah untuk para sentana-minimal para bupati, hijau untuk para mantri, coklat untuk para bekel, hitam untuk para abdi dalem tingkat biasa (mohon dikoreksi apabila pendapat ini keliru).
12). Keris sebagai tanda jasa/satya lencana/penghormatan pengakuan terhadap orang atau keahlian tertentu. Dalam dunia perkerisan, kita mengenal keris berganja kinatah gajah singa, keris ini merupakan satya lencana yang diberikan kepada para perwira/prajurit Mataram yang telah berjasa menumpas pemberontakan kadipaten pati atas kerajaan Mataram (Sultan Agung). Dan ada keris diatas luk 13,krn idealnya dan umumnya keris maximal adlh13,tp ternyata ada luk 15,17,19,21,25,27,29,31 bahkan dengar2 ada luk 37 dan luk 41. Luk diatas 13 tsbt diberikan sebagai penghargaan dan penghormatan kepada org2 yg memiliki ke ahlian khusus dalam lingkungan istana,msl ahli tari,ahli ukir,ahli pengobatan/tabib dsb.
13). Keris sebagai atribut duta. Sewaktu resepsi pernikahan Pangeran Bernard dengan Putri Juliana dari negeri Belanda, Raja Paku Buwana X (Surakarta) mengutus puteranya G.P.H Suryohamidjojo agar menghadiri resepsi tersebut, maka sang putera diberi izin memakai keris Kanjeng Kyai Pakumpulan. Atau pada jaman dahulu pernikahan dianggap sah,bila laki2 berhalalangan hadir cukup memasrahkan pusakanya sebagai wakil dirinya dalam acara resepsi pernikahan tsbt. Dan itu dianggap sah karena sdh terwakilkan oleh pusaka/ageman pribadi tsbt.
14). Keris sebagai lambang persahabatan. Pada zaman dahulu, tanda mata yang paling tinggi martabatnya adalah keris, ini dibuktikan dengan istilah “kancing gelung” atau “cundhuk ukel” yaitu pemberian sebilah keris lengkap dari orang tua kepada anak perempuannya yang baru saja menikah, yang pada akhirnya tanggung jawab pemeliharaan keris tersebut dipegang menantu lelaki. Sering kita dengar bahwa raja2 nusantara  memberikan keris dgn garap yg indah dan cukup mewah kepada raja2 lainnya. Misal keris taming sari kepunyaan hang tuah adlh beliau peroleh dr sang taming sari utusan raja majapahit. Kmdn raja solo pernah memberikan pusakanya tombak kepada pangeran diponegoro sebagai bentuk dukungan kepada pangeran diponegoro atas perjuangandan perlawanan beliau thdp penjajajah belanda.  Keris Si Ginje adalah keris kesultanan jambi yg dlm kisah sejarah mrpkn tanda persahabatan dr  sultan agung hanyakrakusuma.
15). Keris sebagai falsafah. Bentuk dhapur dan corak pamor yang beraneka ragam memiliki nilai falsafah, dhapur brojol= penggapaian cita-cita, pamor pedaringan kebak= harapan sukses akan material, dan lain sebagainya. Luk 11,contoh Dapur Sabuk Inten, merupakan salah satu dapur keris yang melambangkan kemakmuran dan atau kemewahan. Dari aspek filosofi, dapur Sabuk Inten melambangkan kemegahan dan kemewahan yang dimiliki oleh para pemilik modal, pengusaha, atau pedagang pada zaman dahulu.
Luk 13,contoh Dapur Sengkelat mengandung makna nyala (kehidupan) hati, maksudnya adalah perilaku yang luhur, dimana setiap siang dan malam kita selalu waspada dalam keadaan apapun. Dan juga keris2 yg lain memiliki makna dan filosofi masing2.

16). Keris sebagai medium sengkalan(chronogram). Terkenal istilah sirna ilang kertaning bumi (sirna=0, ilang=0, kerta=4, bumi=1), sengkalan tersebut menggambarkan tahun 1400 saka, begitupula ganja berkinatah gajah singa= gajah singa keris siji= berarti tahun 1558 saka, tahun runtuhnya kadipaten Pati oleh prajurit Mataram.

17). Keris sebagai pelengkap busana. Ini sering dijumpai pada saat resepsi pernikahan umpamanya, sehingga kita dengar istilah disengkelit, dianggar dan lainnya yang kesemuanya ditentukan oleh macam upacara yang akan diikuti.
18). Keris sebagai medium. Medium= media perantara, Keris pusaka dianggap mempunyai angsar/ kekuatan untuk memperlancar komunikasi dua arah antara alam nyata dengan alam ghaib, fungsi inilah sampai kapanpun akan dianggap paling menarik untuk diperbincangkan,karena banyak hal yg cukup misterius,unik dan terasa istimewa bagi kalangan tertentu. Dan tidak jarang keris dijadikan sarana memperkuat atma sang supranaturalis dlm berkomunikasi maupun membuka alam gaib.
19). Keris sebagai dekorasi. Umumnya keris yang ditempel ditembok atau media lainnya adalah hanya keris semacam souvenir tanpa kandungan aura/yoni/isi, karena dianggap kurang etis bila menempatkan keris pusaka hanya dari sisi estetika saja.
20). Keris sebagai benda koleksi. Biasanya, bagi para keluarga yang mempunyai banyak keris dari hasil warisan, maka mereka sebagian besar hanya memandang dari keindahan luarnya saja tanpa menghiraukan aspek spiritualnya. Ini berarti sering diantara mereka memperjualbelikan keris pusaka sebagaimana benda koleksi yang lain.
21). Keris sebagai obyek hobby. Kalangan yang menempatkan keris sebagai hobby adalah mereka yang mengumpulkan banyak keris pusaka hanya untuk pemuasan hati semata, tanpa menghiraukan baik tidaknya sebuah pusaka,atau tdk terlalu memperhatikan tuah,tp semata2 nilai atau keindahan dr keris tsbt saja.
22). Keris sebagai sipat kandel / piandel. Sipat kandel adalah: suatu sarana yang membuat pemiliknya lebih percaya diri untuk meraih nasib baik, terlindung, selamat dan maksud lain yang sejenis. Kalangan pecinta keris pusaka semacam ini menjadikannya sebagai “jimat”. Contoh konkretnya adalah keris Jendral Sudirman, Keris Bung Tomo, Keris Bung Karno,karena dlm perjuangan mrk selalu menyertakan keris dlm menyertai perjuangan dan pengobar semangat juang keberanian mrk dlm menghadapi penjajah belanda. serta nama-nama besar lain negeri ini, disamping para beliau adalah para bijak cendekia namun ada sesuatu yang diharapkan dari keris pusaka, terutama pada saat kritis, hal tersebut adalah hal yang wajar sebagaimana kita membutuhkan sesuatu harus menggunakan alat-alat tertentu untuk mempermudah kerja usaha kita.

23) . Spirit KerisMenurut Mpu Brojoningrat dari Surakarta dalam makalahnya, menuliskan keris merupakan visualisasi dari simbol-simbol dapur/bentuk, pamor, bahan/guru bakal guru dadi dan ukuran (anatomi antara lain, sanyari, sakilan dan lain-lain). Keris adalah kaca benggala pola tatanan hidup, falsafah, hingga pemahaman ketuhanan (konsepsi Lingga Yoni). Terciptanya Keris pusaka sebagai titik temu kemanunggalan antara Yang tinemu ing nalar (sesuatu yang dapat dinalar) dan Yang tan tinemu ing nalar (sesuatu yang tidak dapat dinalar). Heneng (konsentrasi), hening (tenang), awas (waspada) dan eling (ingat). Keris merupakan perpaduan unsur material ibu bumi bopo akoso, baja, besi dan pamor (meteorid). Yang diasuh/ditempa ribuan kali hingga sampai pada tataran wesi ‘tapisane gebagan’. Diharapkan manusia juga sampai pada tataran tapisane gebagan. Mpu dalam membabar keris pusaka tansah hateteken kasukcen apepayung budi rahayu (dituntun kesucian dan dilindungi budi luhur), jumbuhing kawulo gusti (anugerah Yang Kuasa), warongko majing curigo (perlindungan dari kecurigaan), rorohing atunggil (roh Yang Maha Esa). Keris punya konsep netes, nitis dan natas. Purwo, madyo, wusono, miwiti, nengahi, mungkasi, pathet 6, pathet 9 dan pathet menyuro. Tri loka lekere kongsi. Pada besalen dalam bangunan limasan apitan, relief candi sukuh terdapat ububan/lamusan. Susuh angin ngendi nggone, tapake kuntul ngalayang, kusumo njrah ing tawang.
Demikian yang bisa kami sampaikan filosofi keris yang bisa kami samapaikan,agar bagi kita pemilik keris akan semakin mengerti dan menghargai budaya adiluhung peradaban besar nenek moyang dan leluhur kita yg perlu kita jaga dan kita lestariakan keberadaannya. Semoga bermanfaat.

Terimakasih kepada para senior dibidang tosan aji atas segenap inspirasi dan karya2ya. Dan trmksh kepada para empu nusantara yg sampai detik ini,karyanya yg adiluhung masih bs kita nikmati eksotika,karya,keindahan,kewingitan dan keisitimewaannya,yg telah memberikan ilham dan hikmah kepada kami semuanya selaku generasi muda.

Terimakasih kepada sohibul bait  yg selalu berendah hati dan berkenan senantiasa meluangkan waktu,biaya dan fikiran dlm setiap waktu dan setiap detikny u/momong dan menyedulur kepada segenap lapisan sedulur2 dimanapun berada.

Terimakasih kepada segenap keluarga besar LASKAR KHODAM SAKTI yg tetap hadir dan seduluran di blog KHODAM SAKTI maupun dalam blog2,grup,twitter dimanapun berada,salam hormat dan salam paseduluran selalu. Silaturahmi dan paseduluran Never die.

1.     ^ Darmosoegito, Ki. 1992. Bab Dhuwung. Djojobojo. Surabaya. Hal. 16.

2.     ^Indonesia – Information related to Intangible Cultural Heritage. Laman UNESCO.

3.     ^abOrigin of The Keris. II. Chinese Influence. Laman Old Blades. Malay World Edges Weapons.

4.     ^Origin of The Keris. III. Keris and Sivaism. Laman Old Blades. Malay World Edges Weapons.

5.     ^abc Lumintu. 1985. Besi, Baja, dan Pamor Keris. Pusat Keris Jakarta. Jakarta. hal. 4.

6.     ^Origin of The Keris. I. Keris Buda. Laman Old Blades. Malay World Edges Weapons.

7.     ^ Lumintu. 1985. Besi, Baja, dan Pamor Keris. Pusat Keris Jakarta. Jakarta. Hal. 3.

8.     ^ Moebirman. 1980.a,Keris Senjata Pusaka. Yayasan Sapta Karya. Jakarta.

9.     ^ lihat misalnya pada versi bahasa Inggris dari terbitan 1944 oleh Armando Cortesao (Cortesao A. 2005. Suma Oriental of Tome Pires and The Book of Francisco Rodriguez. Asian Publishing House. New Delhi. Hal. 179.

10.                        ^Origin of The Keris. IV. The birth of modern keris. Laman Old Blades – Malay World Edged Weapons

11.                        ^Recits 1997.

12.                        ^ Darmosoegito, Ki. 1992. Ibid. Hal. 9.

13.                        de Voyages du XVI et XVIIème siècle. Laman Old Blades: Malay World Edged Weapons.

14.                        ^The Malay armed forces in: ‘Description of Malaca’, from Godinho de Eredia (1613). Laman Old Blades: Malay World Edged Wapons. “Description of Malaca” dirilis ulang oleh The Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, Cetakan 14,

15.                        ^ Harsrinuksmo B. 1986. Petunjuk Praktis Merawat Keris. Pusat Keris Jakarta. Jakarta. Hal. 7.

16.                        ^ Harsrinuksmo, B. 1985. Pamor Keris. Pusat Keris Jakarta. Jakarta. Hal. 7–8.

17.                        ^ Kusni. 1979. Pakem. Pengetahuan tentang Keris. C.V. Aneka. Semarang. Hal. 91.

18.                        ^abc Murtidjono. 1991. Besalen-besalen di Surakarta Masa Kini. Dalam:Sarasehan Seni Kriya Keris Jakarta 1991. Kumpulan Makalah. Panitia Pameran dan Sarasehan Seni Kriya Keris Jakarta. Jakarta. Hal. 35–42.

19.                        ^ Harsrinuksmo B. 1985. Tanya Jawab Soal Keris. Pusat Keris Jakarta. Jakarta. Hal. 30., dan Jeno Harumbrojo (Yogyakarta)

20.                        PENGARANG : MT. Arifin JUDUL : Keris Jawa [Bilah latar sejarah hingga pasar]
PENERBIT : Hajied Pustaka JakartaCETAKAN : 2006ISBN : 979-25-5290-1
JUMLAH HALAMAN:460



Mabes Laskar Khodam Sakti

Jl. Elang Raya , Gonilan, Kartasura

Solo, Jawa tengah
WA +6285879593262

HIKMAH & WIRID

PANGERAN SUKEMILUNG

Assalamu’alaikum wr,wb santri KOS yang kami mulyakan…artikel ini terdiri dari dua bahasan mengenai Wirid dan Doa. Berisikan penjelasan mengenai serba-serbi yang patut diketahui mengenai wirid dan doa. Bagian ini adalah yang pertama dari dua bahasan tersebut. Semoga penjelasan yang kami nukil dari berbagai kitab ini dapat menambah wawasan kita dan membuka cakrawala berpikir yang lebih baik. Dengan itu dapat menjadi pondasi bagi seseorang yang menyukai hal-hal supranatural, bagaimana memilah suatu wirid dan berdoa. Sehingga hal itu dapat mengantarkan maksud dan tujuan sebagaimana mestinya. Selamat membaca…

1.Pengertian Wirid Dan Manfaat Merutinkannya.

Mungkin anda pernah mendengar istilah ini,Wiridan. Cobalah untuk bertamu ketempat teman atau saudara sesaat setelah waktu sholat, mungkin anda akan disambut pemilik rumah dengan ucapan “ tunggu sebentar, sedang wiridan.” Istilah ini begitu popular sekali bagi kaum muslimin, khususnya warga Nahdliyyin yang notabene aktivitas ibadahnya tidak pernah absen dari kegiatan yang satu ini.Anak-anak mudanya apalagi kalangan santri yang melihat diantara mereka ada yang mempunyai bacaan-bacaan yang panjang pasti akan mengeluarkan ucapan “ wah, wiridannya kenceng .”

Tapi apa sebenarnya bentuk dari aktivitas yang satu ini? “ Wiridan” (wird ; bahasa arab), adalah kata yang biasa diucapkan dan telah menyatu dalam bahasa masyarakat kita khususnya kalangan santri dipondok-pondok pesantren.Asal katanya “ warada “artinya hadir,datang,sampai ( Mukhtar-Ashshahah, Muhammad Abu Bakar Ar-Razi ).Kemudian secara terminalogi menjadi istilah untuk berzikir dan berdoa sesuai dengan `aurad` ( jamak dari kata wirid ) yang datang dari Nabi Saw, para sahabat, maupun para ulama “ waratsatul Anbiya /wali.”

Istilah lainnya adalah “ Istighatsah” artinya memohon pertolongan kepada Allah secara langsung pada saat terjepit.Kata “wirid” dalam Al-qur`an sebagai berikut :

1.QS.28 Al-Qashash :23

و لما ورد ما ء مدين و جد عليه ا مة من الناس يسقون

“ Dan tatkala ia sampai disumber air negeri madyan ia menjumpai disana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya)

2.QS.12 Yusuf : 19

و جا ء ت سيا رة فا ر سلو ا وا رد هم فاداى دلوه

“ Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir ,lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya …”

3.QS.50 Qaaf : 16

ولقد خلقنا الانسن ونعلم ماتوسوس به نفسه,ونحن اقرب اليه من حبل الوريد

“ Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

4.QS.55 Ar-Rahman : 37

فاءذا انشقت السماء فكانت وردةكالدهان

“ Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti ( kilapan ) minyak”

Dengan demikian amalan wirid diharapkan menjadi pengantar kesegaran ruhani dan bagian erat keseharian kita dan masyarakat , untuk memperoleh keselamatan, kebahagiaan, keberuntungan, ketentraman, kedamaian, tercukupi segala kebutuhan dan terpenuhi keinginan yang dimaksud dalam berbagai aktivitas mencapai ridha Allah SWT.Bahkan Hujjatul islam imam Al Ghozali telah mengatur wirid-wirid tertentu dalam kitab Bidayatul Hidayah.Para syekhul islam banyak menyusun kitab-kitab wirid dikarenakan banyaknya keberkahan, keuntungan yang didapat dari aktivitas ini. Ayat-ayat Alqur’an yang menunjukkan kepada masalah tersebut antara lain firman-firman Allah Ta’ala :

واتل مااوحي اليك من كتاب ربك لامبدل لكلمته ولن تجد من دونه ملتحدا واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم با لغداة والعشي يريدون وجهه ولاتعد عيناك عنهم تريد زينة الحيات الدنيا ولاتطع من اغفلنا قلبه عن ذكرنا واتبع هواه وكان امره فرطا

“ Dan engkau bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari kitab Tuhanmu,tidak ada perobah yang dapat merobah Kalimat-kalimatNYA, dan engkau tidak akan menemukan selain dariNYA tempat bersandar dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Tuhannya dipagi dan petang demi mendambakan keridhaanNYA dan janganlah engkau memalingkan perhatianmu dari mereka karena menginginkan perhiasan duniawi dan janganlah engkau patuhi orang yang kami lupakan hatinya dari mengingat kami dan dia senantiasa mengikuti hawa nafsunya dan adapun tindakannya berlebih-lebihan.”

Pada dasarnya wirid berhubungan erat dengan kemaslahatan hidup. Dengan terus-menerus menjaga hubungan kita dengan sang Pencipta, kita akan berada terus dalam pengawasan-NYA. Aktivitas wirid adalah sarat dengan permohonan dan doa. Dalam Islam sangat ditekankan sekali agar seorang muslim selalu berdoa. Seorang yang mendapat ridho dan rahmat-NYA niscaya akan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat.

Kebahagian itu tidak mesti dengan berbentuk harta yang melimpah. Karena bisa saja berupa yang lain, seperti anak-anak yang cerdas, istri yang sholihah, disukai tetangga, hidup yang sehat jauh dari penyakit, pekerjaan lancar dan lain sebagainya.Tapi mesti diakui kita tidak bisa melepaskan dan mengingkari kemanusiaan kita yang memiliki nafsu, termasuk nafsu duniawi. Selama yang kita minta tidak bertentangan dengan agama, yang masih dalam jangkauan Ridho dan Rahmat Allah SWT, maka hal itu tidak menjadi masalah. Yang terpenting adalah Niat kita. Niat yang benar niscaya akan mendatangkan keberkahan.

Lalu wirid yang terbaik adalah membaca Alqur`an “ Barangsiapa ingin berdialoq dengan Allah, maka bacalah Alqur`an,” begitu sabda Rasulullah SAW. Dialoq dengan Allah adalah wirid yang paling indah. Setelah itu kalimat Thayyibah seperti La Ilaha Illallah. Allah menjaminkan surga bagi siapa pembaca kalimat itu. Lainnya adalah Istighfar, shalawat, tahmid, tasbih, Asma al-Husna, doa-doa ma`tsur dari Rasulullah. Selanjutnya kenapa kita tidak membiasakan aktivitas ini, setelah tahu manfaat yang bisa kita peroleh begitu nyata dan besar ?

2.Rahasia waktu, bilangan bacaan dan huruf.

Pada saat anda menerima ijazah wirid, pernahkah terpikir kenapa wirid harus dibaca dengan memperhatikan waktu-waktu tertentu ?ada yang mesti dibaca ba`da sholat fardhu, atau cukup dibaca ba`da maghrib dan shubuh saja, atau hanya satu kali dalam sehari semalam?Dan pernahkah anda memperhatikan untuk sebuah wirid mesti mempunyai hitungan tersendiri.Kenapa tidak kita baca saja saja sesuai dengan keinginan hati kita ?

Setiap kali Allah menciptakan sesuatu tentu ada maksud dan rahasia sendiri. Termasuk Waktu adalah salah satu rahasia yang tidak dipahami orang-orang awam. Hanya sedikit dari mereka yang bisa memahami ini. Yang sedikit itulah dari para Ulama-ulama Hikmah (baca:Waliyullah) yang dapat memahami asror dibalik penciptaan ini.Ketentuan waktu dibaca waktu shubuh, asar, maghrib dan isya memang berhubungan dengan rahasia dalam sholat.Allah SWT menciptakan jumlah rakaat yang berbeda, walaupun ada yang sama seperti zhuhur, asar dan isya yaitu empat rakaat. Maghrib tiga rakaat dan shubuh dua rakaat. Jelas kalau kita hubungkan dengan ilmu falaq sangat besar pengaruhnya.

Coba perhatikan, terkadang ijazah wirid sering sekali harus dibaca ba`da shubuh dan maghrib, karena kedua waktu itu mempunyai keistimewaan yang berbeda. Sekali lagi, setiap waktu memiliki kelebihan dan keistimewaan. Satu contoh, doa-doa Rasulullah SAW banyak yang terkait dan dibaca pada waktu shubuh dan malam hari. Diantaranya “ Allahumma inni asbahtu…”

Kalau kita bisa melihat, waktu-waktu mustajabah yang diberikan oleh Allah SWT itu justru pada waktu shubuh, plus nilai tambah pada saat pergantian waktu malam ke siang yang berkhasiat bagi kesehatan. Yaitu sejak matahari memancarkan sinarnya. Yang merupakan awal hari untuk beraktivitas. Dengan membekali diri untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dengan mengaplikasi bacaan-bacaan saat shalat shubuh agar menjadi bekal kita hingga sore harinya.

Pada saat pergantian hari itulah kita dihadapkan pada satu kelemahan. Terkadang disebabkan aktivitas dan lingkungan ikut terpengaruh kedalam tubuh, jasmani maupun rohani. Satu kelemahan yang sangat jelas, saat kita membutuhkan penjagaan Allah. Karena itu kita memerlukan bacaan-bacaan tertentu. Bacaan-bacaan yang berbeda tapi memiliki maksud dan tujuan yang sama.

Dan waktu malam adalah saat yang penuh dengan kelalaian. Disinilah seorang harus membekali diri dengan penjagaan Illahiyah. Sudah dimaklumi, saat seperti inilah penuh dengan biasg-bayang jerat dari iblis dan sekutu-sekutunya. Orang-orang yang iri dengan hak dan rezeki orang lain akan melancarkan serangan pada waktu malam. Berusaha menghancurkan mereka yang lalai dari perlindungan Allah SWT.

Berusaha melindungi diri dengan memohon penjagaan dari Allah SWT adalah yang terbaik. Tidak hanya untuk diri pribadi, tapi untuk keluarga dan semua yang dikasihi. Memohon penjagaan dan keberkahan dari Allah SWT untuk urusan dunia dan akhirat. Disinilah fungsi dan tujuan dari wirid tersebut. Perhatikan ayat berikut ini,

وهو الذى جعل الليل والنهار خلفة لمن اراد ان يذكر او اراد شكورا

“ Dan Dialah yang menjadikan siang dan malam silih berganti untuk siapa yang mengingat Allah atau ingin mensyukurinya “

Sebagian dari ulama mengatakan makna ‘ khilfatan ‘ pada ayat tersebut yaitu ‘ yang satu mengiringi yang lain.’ Dan hal itu adalah untuk agar apa yang tak sempat dikerjakan diwaktu siang masih dapat dikerjakan (diqhodo’i) pada malamnya, yaitu waktu-waktu untuk berzikir dan bersyukur. Juga dengan adanya pergantian siang dan malam maka akan dapat pula diketahui batasan-batasan waktu, selain beraneka ragam amal-amal ibadah dan amal-amal baik lainnya dapat dikerjakan sesuai dengan waktu-waktunya. Untuk masalah itu terdapat pemberitahuan dari Rasulullah SAW, yaitu sabda Beliau,” hamba-hamba yang paling disukai Allah adalah mereka yang senantiasa memperhatikan matahari dan bulan dan pertukaranya demi untuk berzikir pada Allah Ta’ala.”

Allah tidak pernah meminta bantuan kepada siapapun.Karena DIA Maha Besar dan Maha Agung.Tapi DIA menjadikan sesuatu ada pembantu/penjaganya.Termasuk ayat-ayat atau doa-doa yang diturunkan. Tugas dari penjaga (khodam) ayat atau doa tersebut adalah mendoakan agar sipembaca ayat atau doa itu dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Memang benar, setiap huruf Hijaiyyah memiliki kandungan asrar (rahasia) masing-masing. Yang mengetahui hal tersebut adalah orang yang ahli al-asrar atau ulama tertentu. Ulama-ulama yang memahami ilmu ini biasanya Ulama Ahli Hikmah. Tidak jarang mereka mengetahui makna dan penggunaannya, misalkan huruf Alif Lam Mim, Ha Mim, Alif Lam Ro, Yaa Siin, dan seterusnya.

Ulama-ulama Hikmah yang menemukan formula bacaan suatu wirid dapat mengetahui asror dari bacaan-bacaan tersebut. Dari merekalah kemudian dapat diketahui nilai plus dari suatu bacaan. Hasil penyelidikan metafisis itulah akhirnya kita bisa mengetahui, sebagai contoh kenapa surat At-Tholaq ayat 2-3 banyak digunakan untuk wirid penarik rezeqi ? atau kenapa jika ayat Qursy dibaca 3 kali dengan menahan nafas pada bagian tertentu berfungsi untuk meredam niat jahat seseorang ?

Tidak usah kita memperpanjang bagian ini. Cukuplah untuk kita mengambil manfaat dari apa yang mereka tinggalkan. Mengambil apa yang mereka ajarkan. Dan menerapkan dalam kehidupan.

3.Kedudukan wirid dalam Agama dan kaitannya dengan Ijazah.

Masih jelas sekali dalam benak saya,pertama kali menerima ijazah sang guru menjabat tangan saya dan berucap,” Ajaztuka “ spontan saya mesti menjawab “ Qobiltu !” yang berarti serah terima wirid dianggap sah.Tapi bagaimana dengan orang-orang yang tidak beruntung mempunyai guru atau yang mengambil wirid berdasarkan buku atau melalui sarana/media tertentu misalnya?Apakah bisa dan sah jika wiridnya diamalkan? Bagaimana keberkahan wirid yang seperti ini? Manjur atau tidak bermanfaat sama sekali?

Mengenai ini pernah dibahas Syaikhina Al-Mursyid Habib Lutfi bin Yahya, beliau mengatakan untuk mereka yang mengambil bacaan wirid tidak langsung dari seorang guru hendaknya sedapat mungkin bersikap bijaksana. Karena bacaan wirid yang termaktub dibuku memiliki ijazah yang bersifat `ammah (umum). Sebab sang Muallif memberikannya secara bersama-sama kepada semua umat tanpa melihat kondisi umat secara langsung.

Namun agar ijazah tersebut bisa mengantar kita dalam mencapai peningkatan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, hendaknya mengikuti apa yang telah digariskan atau dicontohkan oleh Baginda Nabi SAW, sahabat, tabiin, tabiit-tabiin , yang itu tidak terdapat dalam penjabaran ijazah tersebut. Baik itu i`lan atau peringatan, maupun i`bar atau pemberitahuan dari para mualif tersebut. Sekalipun Ijazah tersebut sudah diberikan secara `ammah, tetap saja memerlukan seorang guru.

Selanjutnya beliau mengatakan, guru disini berfungsi sebagai penyambung lidah dalam bentuk ijazah `Ammah.Guru-guru atau Ulama tersebut adalah orang yang tahu persis dosis dan kemampuan orang yang menerima dan mengamalkan muamalah itu.Disinilah penting dan tingginya nilai seorang Guru, khususnya untuk menerapkan ijazah-ijazah yang `Ammah didalam kitab/buku tersebut.

Kalau sudah begini, berarti mengamalkan wirid yang didapat dari buku berarti sia-sia ? Jawabnya “ TIDAK !” karena ada atsar yang mengatakan,” Sesungguhnya Ilmu dan Hikmah itu adalah milik kaum muslim yang hilang, maka ambillah dimanapun dia berada.”

Selanjutnya Habib Lutfi mengatakan, “… Ambil dan teruskan bacaan-bacaan wirid tersebut sebagai satu bentuk nilai ibadah,…selanjutnya sesegera mungkin dimintakan ijazah kepada Ulama/guru yang memahami bidang tersebut…” Dalam dunia Wirid, Ijazah diperlukan dalam rangka menata hati supaya lebih mantap dan untuk mencapai pendekatan yang sempurna kepada Allah SWT.

Secara garis besar peran guru diperlukan dalam semua disiplin ilmu. Adanya seorang guru, permasalahan apapun dapat segera menemui jalan keluar.Berbeda dengan yang mencari jawaban sendiri, meskipun bisa dapat dipastikan tidak akan sempurna.

Perhatikan hadist berikut ini, Rasulullah bersabda :

“ Ilmu merupakan perbendaharaan. Kuncinya adalah bertanya, karena itu bertanyalah semoga Allah melimpahkan Rahmat kepada kalian.Sehubungan dengan masalah ilmu ini, ada empat kelompok orang yang memperoleh pahala, yaitu orang yang bertanya, orang yang mengajarkan, orang yang mendengarkan, dan orang yang mencintai ketiganya.” (HR.Abu Nuaim dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib KWH).

Bertanya adalah kunci untuk memahami rahasia ilmu dan menyingkap keghaiban didalam hati. Menurut Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Shohibur Rotib), ilmu itu seperti harta benda dirumah yang tidak dapat diambil kecuali dengan kunci. Begitupun ilmu para Ulama dan Arifin, tidak akan dapat dipelajari dan diambil manfaatnya, kecuali dengan mengajukan pertanyaan secara jujur dan dengan keinginan yang kuat serta adab yang baik. Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa wirid menempati kedudukan yang penting dalam agama dan mempunyai kelebihan tersendiri.As-syaikh Al-Umari, pengarang kitab Bahrul Anwar mengatakan “ ketahuilah bahwa yang membuat jiwa dan hati manusia jernih dan murni, sumbernya ialah dia berada ditempat-tempat yang dekat disisi Allah dan tempat bersaksi kepada-NYA. Selain dari itu untuk seseorang bisa sampai ketempat itu dia harus menggunakan sebab-sebab yang dapat menyampaikannya kesitu, serta berjalan dengan mengikuti rambu petunjuk yang telah tersedia dijalan kearah tempat itu. Adapun sebab yang harus digunakan dan jalan yang harus dilalui dan rambu yang arahnya harus diikuti adalah mengerjakan wirid-wirid.”

Al-Imam Habib Abdurrahman bin Muhammad Asseqaf mengatakan “ Barangsiapa yang tak mempunyai amalan wirid disetiap harinya, maka tak ubahnya dia seperti seekor binatang kera.” Wirid merupakan sebab bersihnya hati. Membuat jiwa jernih dan suci. Yang dapat melepaskan kekotoran-kekotoran yang diakibatkan oleh syahwat yang tadinya menempel dan melekat padanya. Ibarat karat yang menempel pada besi.

Selanjutnya Syaikh Umari mengatakan bahwa Allah dengan HikmahNYA , dijadikan-NYA didalam semua bentuk peribadatan yang berlaku terdapat sesuatu untuk pengetuk dan pembuka pintu alam-alam ghaib. Maka barangsiapa melaksanakan semua amal ibadahnya dengan memenuhi semua syarat dan adabnya, maka alam ghaib tidak lagi tertutup bagi dirinya.Dengan sebab itulah wirid dapat mengangkat derajat seseorang. Seseorang yang menjaga wiridnya dari hari kehari sama artinya berada dalam penjagaan Allah SWT terus-menerus.

Mengenai memilih Wirid dan zikir, sebagian ulama mengatakan sudah seharusnya seseorang memilih untuk dirinya dan menentukan zikir-zikir yang sesuai dengan kemampuannya yang dirasakannya ringan bagi dirinya, karena itu akan membantu untuk merutinkan dan menekuninya, serta akan tetap terpelihara kestabilan semangatnya dan tidak mengalami kejenuhan sehingga dia akan dapat mencapai tujuannya dengan mudah. Ketahuilah bahwa Allah memberikan bantuan-NYA kepada seseorang hamba sebesar kadar niat orang itu sendiri.

Disinilah terjadi peran guru. Guru yang bijaksana akan mengetahui kapasitas batin si murid. Tidak mungkin murid yang punya sifat malas diberi amalan yang panjang dan lama. Begitu juga karakter seseorang akan menentukan jenis wirid yang cocok untuk dibaca. Guru yang sempurna ilmunya lahir dan batin, akan ‘membaca’ pribadi si murid semata-mata untuk kebaikan dirinya. Tidak jarang kita mendengar ada Ahli Wirid yang mengalami ‘ kegoncangan ‘ / gangguan kejiwaan karena berlebihan ‘ dosis ‘ wiridnya. Biasanya adalah bacaan-bacaan Hizib yang memang sangat riskan sekali diijazahkan secara ‘ammah ( umum ). Karena doa-doa yang mempunyai ‘ dosis ‘ besar tidak akan terbuka begitu saja asror / rahasianya sebelum si pengamal di uji terlebih dahulu. Sekali lagi ! jika kita mendapatkan sebuah bacaan wirid alangkah baik dibawakan kepada ahlinya. Setidaknya hal itu akan membuat kita lebih aman dan mantab dalam pengamalannya. Apalagi jika bacaan itu berbentuk Hizib, yang notabene memang termasuk amalan ‘ kelas berat@@@

SERBA-SERBI D O A

1.DOA DAN SEGALA PERMASALAHANNYA

Doa secara bahasa berarti panggilan. Ketika engkau berkata “ aku berdoa kepada si fulan “ ketika engkau memanggilnya sudah tentu engkau berharap dia menjawabmu. Secara istilah, doa berarti permohonan dari pihak yang lebih rendah kepada pihak yang lebih tinggi, dengan cara kita merendahkan diri. Saat kita berkata “ Aku memohon pada-MU ya Allah !” ketika itulah kita memohon dengan merengek merendahkan diri kita dihadapan-NYA, penuh harap atas kebaikan-NYA.Ketahuilah ! doa sungguh punya keutamaan Agung dan pahala yang besar. Doa adalah senjata untuk mengalahkan musuh, benteng dari marabahaya. Dengan Doa berbagai kebutuhan tercukupi, tercapai dan berbagai kesulitan teratasi.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata,” Doa mengandung kunci-kunci kesuksesan, kunci-kunci kebahagiaan. Sebaik-baik doa adalah yang berasal dari hati yang suci dan bersih.” Allah berfirman ketika memerintahkan untuk berdoa dan menjamin pengabulannya,

ادعوني استجب لكم

“ Berdoalah kepada-KU, niscaya Aku kabulkan untuk kalian.”( Al-Mukmin {40}:60 )

واذا سالك عبادي عني فاني قريب اجيب دعوة الداع اذا دعان فايسجيبوالي وليومنوا بي بعلهم يرشدون

“ Dan apabila hamba-hamba-KU bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-KU. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-KU dan hendaklah mereka beriman kepada-KU agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah {2} : 186)

قل ما يعبا بكم ربي لولل دعاوكم

“ Katakanlah (kepada kaum musyrik) :” Tuhanku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian.”

( Al-Furqan {25} : 77 )

Ayat-ayat diatas jelas mengandung anjuran untuk berdoa, jelas pula bahwa doa bisa menjadi pencegah dari musibah.Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa yang yang diucapkan dengan hati yang lalai dan membelakangi/membangkang. Karena itu jika berdoa menghadaplah kepada Allah dengan sepenuh hati, dan yakini bahwa doa itu akan terkabul.Dalam satu hadist disebutkan,” Seorang lelaki menyuapkan satu suapan haram kemulutnya, niscaya Allah tidak akan mengabulkan doanya selama 40 hari. Dalam hadist lain,” Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa seorang hamba yang diperutnya ada makanan haram, atau dia pernah berlaku zalim kepada sesame makhluk Allah.” Disebutkan pula bahwa berdoa dengan tetap memakan makanan haram sama halnya dengan membangun diatas air.

Inilah hambatan paling berat bagi terkabulnya sebuah doa. Doa memiliki berbagai syarat dan adab. Karena itu jadikan berbagai syarat dan adab itu sebagai persiapan untuk berdoa. Ada 3 perkara yang setidaknya mesti diindahkan seorang pendoa :

Pertama, iktikad yang shahih. Artinya benar-benar meyakini apa yang diajarkan Nabi SAW dan para salafush shalihin/Wali kedalam dirinya. Dan mengharapkan terkabulnya doa/ijabah dengan lantaran keberkahan dari doa yang mereka susun ataupun karena pribadi mereka yang dekat kepada Allah SWT.

Kedua, menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah ketika berdoa dan meyakini akan RahmatNYA. Allah berfirman :

فادعوا الله مخلصين

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-NYA” ( Al-Mukmin {40} : 14 )

Ketiga, sebaiknya membaca doa dengan benar, berhati-hati agar tidak salah baca. Dalam kitab Iddatu-Ddai, ibn Fahd berkata,” maksudnya bacaan yang salah dari sebuah doa tidak akan sampai/naik kepada Allah adalah, Para malaikat hafadzah (penjaga) akan ‘menyensor’ terlebih dahulu kesalahan baca itu, berikut konsekwensi perubahan-perubahan maknanya. Allahpun tidak akan menjawab doa berdasarkan bacaan yang salah, melainkan Dia akan menjawabnya berdasarkan maksud si pendoa. Allah dengan sifat RahmanNYA akan mengabulkan maksud sipendoa walaupun dia tidak fasih dalam melafalkan doa.

Selanjutnya perlu di perhatikan pula bahwa, kalaupun doa telah memenuhi syarat-syarat diatas terkadang pengabulannya di akhirkan juga. Yakni pengakhiran ini dimaksudkan untuk kemaslahatan sipendoa itu sendiri. Atau bisa saja Allah mencintai hamba-NYA dan senang mendengar rintihan doanya, mengecilkan diri dan mendesak-desak permohonannya kepada Allah. Dengan begitu pengabulannya sengaja tidak disegerakan supaya ia sering kembali kepadaNYA.

Diriwayatkan Jabir bin Abdullah, Nabi SAW bersabda,” Seorang hamba berdoa kepada Allah dan Allah mencintainya, maka Allah berkata kepada Jibril,” Penuhi permintaan hambaKU ini, tapi tunda dulu ! karena aku senang mendengar rintihan suara doanya.” Disisi lain seorang hamba berdoa kepada Allah dan Allah membencinya, maka Allah berkata kepada Jibril,” Penuhi kebutuhan hambaKU ini segera, karena aku benci mendengar rintihan doanya.”

Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Tholib berkata.” Bisa jadi pengabulan doa seorang hamba diakhirkan, supaya pahala sang pemohon jauh lebih besar karunia kepadanya jauh lebih melimpah. Jika kita bisa memahami ini, tidak usahlah meragukan doa ketika pengabulannya belum kunjung jua (diakhirkan), karena itu semata untuk kemaslahatan dirimu juga. Karena sungguh tidaklah ragu terhadap ayat-ayat Allah kecuali orang-orang kafir.

Begitu juga sangat dianjurkan sekali untuk berdoa dengan cara Bertawasul. Mengenai ini sudah sangat jelas sekali dalilnya. Banyak cara bertawasul, misalnya dengan membaca asma-asma tertentu, dengan doanya orang sholeh, ataupun dengan amal saleh yang pernah kita lakukan. Mengenai bertawasul ini dapat diketahui contohnya dari satu hadist mengenai Nabi Adam A.S, tatkala dia berkata,” Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMU dengan kemuliaan Muhammad disisiMU agar engkau mengampuni semua kesalahanku.”

Begitu juga dengan bacaan-bacaan yang mengandung asma-asma Allah alhusna sangat dianjurkan sekali, sebab dengan itu dapat terbuka semua kesulitan dan memudahkan maksud dengan sebab kemuliaan dan sifat Rahman Allah SWT.

2.Sebagian dari syarat-syarat yang harus dipenuhi

oleh seseorang yang akan berdoa.

Kami ringkaskan bagian ini dari kitab Al-Qirthas, syarah Ratib Al-Attas. Disitu disebutkan bahwa sebagian dari adab-adab dalam berdoa adalah harus bersihnya dhohir dan bathin, juga pakain dan tempat melaksanakannya, kosongnya perut dari makanan haram, memakai harum-haruman dan didahului dengan melakukan amal-amal shaleh dan bersedekah walau hanya dengan sesuatu yang sedikit. Kemudian memperbanyak melakukan ( doa ) setelah mengerjakan shalat-shalat wajib atau lewat tengah malam. Ini mengacu pada hadist yang telah diriwatkan oleh Attirmizi dari Abi Umamah Al-Bahili r.a dia mengatakan bahwa telah ditanyakan kepada rasul Allah SAW,” Doa yang bagaimana yang lebih didengar ?’ dijawab oleh beliau SAW dengan sabdanya “ dipenghujung akhir tengah malam dan seusai shalat-shalat yang wajib.”Selanjutnya dijelaskan bahwa sebaiknya doa dilakukan dengan menghadap kekiblat dalam keadaan terbuka kepala tidak tertutup dengan menundukkan kepala dan memusatkan pikiran dan bergairah dengan kemauan serta semangat yang sungguh-sungguh. Berkeyakinan kuat akan terkabulnya doa dengan berbaik sangka kepada Allah SWT. Disertai rasa takut dan hormat, seperti yang dimaksud dalam ayat :

ويدعوننا رغبا ورهبا

“ Dan mereka meminta kepada kami dengan penuh semangat dan rasa takut.”

Kemudian perlu juga diperhatikan cara pengucapannya yaitu dengan perasaan memelas dan jangan dilagu-lagukan. Kemudian bagi yang mendengarkan agar turut meng-Amin-kan.Jika hendak berdoa usahakanlah pada waktu-waktu dan tempat-tempat yang mempunyai keberkatan dan keistimewaan tersendiri. Seperti didalam masjid atau pada waktu lewat tengah malam. Atau pada saat turun hujan lebat, pada malam/siang hari jum’at dan saat matahari akan terbenam dihari itu, dan juga disore hari kamis.Ketika imam sedang duduk diantara dua khotbah, ketika sebelum mengucapkan AMIN dalam setiap shalat (diakhir setiap Fatihah), juga dihari Arafah, juga setelah bersuci baik wudhu maupun mandi janabah yang wajib ataupun sunahnya, juga mandi sunah lainnya seperti mandi sunah Taubat, mandi sunah Jum’at, mandi sebelum Ihram dan mandi sunah hari lebaran.

Kemudian sepanjang bulan Ramadhan disiang maupun malamnya, juga setiap hari biasa disetiap kedua penghujung malamnya ( maghrib dan fajar ), saat berkecamuknya peperangan antara umat islam melawan kuffar, saat setelah diucapkan iqamatis shalat, pada saat sujud, setelah membaca / meghkatamkan Alqur’an, saat minum air zam-zam , saat menutupkan mata orang mati.

Juga ditempat-tempat suci dan dalam keseluruhan peribadatan ditanah Haram Makkah dan Madinah dan Baitul Maqdis, juga didekat Maqbarah ( kuburan ) Nabi terutama Maqbarah Nabi Muhammad SAW, juga tatkala berada didekat guru baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal, saat berbuka puasa sebelum makan/minum.

Termasuk juga dari adabnya adalah mengangkat tangan sebatas tinggi bahu dan perut telapak tangan ditadahkan keatas dan membalikkannya tatkala beristiazah (minta ditolakkan) seperti memberi isyarat menolak sesuatu atau ketika meminta agar dihindarkan dari suatu kejahatan. Dan dalam kedua hal itu tangan tetap telanjang. Membuka doanya dengan kata pujian, tahmid, tasbih dan beristighfar kepada Allah serta bershalawat atas Nabi Muhammad SAW.

Janganlah dikira arti ridho terhadap qadha adalah meninggalkan doa, atau membiarkan saja anak panah yang dibidikkan kearah dirinya tanpa usaha untuk menangkisnya dengan tameng, sehingga membiarkannya mengenai dirinya. Sedangkan dia berkemampuan untuk menahannya dengan perisai. Termasuk dalam Ridho terhadap qadha adalah berusaha mencapai apa yang disukai Allah melalui penyebab untuk memperolehnya. Meninggalkan asbab adalah sesuatu yang berlawanan dengan apa yang di ridhaiNYA. Doa adalah tameng/perisai dari ketentuan Allah. Dengan sebab berdoa ketentuan yang tidak disukai tidak akan mengenai secara vital. Hal ini berbeda dengan orang yang membiarkan saja semua ketentuan yang berlaku yang berpendapat bahwa apapun yang ditaqdirkan sudah seharusnya diterima apa adanya. Jika sudah begini tidak ada gunanya Doa.

Sebetulnya dengan penjelasan yang ada dan tersebut diatas tidak perlu untuk menambahinya lagi dengan penjelasan lainnya. Namun perlu disinggung sedikit agar dapat lebih mudah dipahami, karena tujuan kami adalah untuk lebih menguatkan keyakinan pembaca dan menambah gairah untuk mengamalkannya. Bahwa sebagian orang (golongan) berpendapat bahwa segala sesuatu yang berkenaan dengan doa ( baca :khasiat-khasiat amalan/doa ) hal itu merupakan sesuatu yang tidak jelas dan tidak nyata dan tidak ada buktinya atau dengan kata lain tidak ada kepastiannya dan diluar rumus-rumus ilmiah. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa apa yang disampaikan (para Ulama) mengenai hal itu adalah cerita bikin-bikinan saja. Dan tidak puas dengan itu, mereka juga mengajak orang lain untuk mengikuti dan membenarkan pendapat mereka.

Kami nukil penjelasan ini dari guru kami Al-Habib Muhammad bin Ali Syihab. Berkenaan dengan adannya sebagian orang yang berpendapat ‘nyeleneh’ seperti itu. Karena tidak semua umat punya kemampuan memahami dan mempelajari hikmah dari suatu doa. Berikut ini penjelasannya :

“ Untuk mengarahkan kepenjelasan yang dimaksud itu maka akan kami antar dengan cara menjelaskan arti kata-kata yang sering terdengar yaitu ILMUL YAQIN,AINUL YAQIN dan HAQQUL YAQIN, walaupun mungkin hal itu sudah dimengerti namun tetap saja ada kemungkinan ada yang belum memahaminya. Terutama dari kalangan Pemuda yang kebanyakan dari mereka tidak berkesempatan memperhatikan hal demikian dengan teliti apalagi mempelajarinya dengan seksama. Dan faktor penghambatnya adalah pengetahuan tentang bahasa, dan kalaupun ada juga hanya sebatas mereka mendapatkan dari hasil “ nguping “ sepintas saja.
ILMUL-YAQIN

Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan Ilmul-Yaqin adalah satu lukisan kata-kata tentang sesuatu yang diperoleh dengan cara menyimak dan diyakini kebenarannya. Dan sifat keyakinannya itu adalah hanya berdasarkan kepercayaan sipenyimak terhadap orang yang `menjelaskan/memberitahukan kepadanya. Sampai dia mengetahui sesuatu yang dimaksud, hanya saja pengetahuan tentang itu masih berupa gambaran atau lukisan sebab dari penjelasan tadi. Bahwa begitu adanya atau bentuknya atau begini masalahnya atau begitu nanti jadinya atau seperti itu prosesnya, namun dia sendiri belum pernah menyaksikan sesuatu yang dilukiskan itu bagaimana yang sebenarnya. Namun meyakini penjelasan itu adalah benar dan betul adanya.

AINUL-YAQIN

Kemudian berdasarkan pengetahuan yang berupa gambaran/lukisan kata-kata yang didengarnya dan diyakininya itu, dia mencoba mengadakan praktek, jika hal itu merupakan suatu cara yang harus dipraktekkan atau mencarinya agar dapat menemukannya jika hal itu merupakan sesuatu yang telah berwujut fisik. Sehingga dia akan melihat hasil dari prakteknya itu, atau bagaimana rupanya, atau bagaimana hasilnya jika dikerjakan. Jika hasilnya sesuai dengan apa yang diberitahukan kepadanya, maka berarti pengetahuannya tentang itu telah meningkat sampai ketingkat pembuktian yaitu telah disaksikan sendiri dan begitulah yang dimaksudkan dalam pemberitahuan yang telah diterimanya. Dan betul telah dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri bahwa hal itu benar sesuai dengan kenyataan yang dilukiskan. Sampai tingkat ini hal itulah yang disebut sebagai Ainul-Yaqin.

HAQQUL-YAQIN

Pengetahuan yang telah didapat tadi dan diyakini kebenarannya mungkin saja masih diliputi dengan keraguan, apakah hal itu akan selamanya demikian atau masih ada peluang terjadinya perubahan-perubahan. Maka diulanginya lagi percobaan-percobaannya dan setelah ternyata hasilnya tetap sama, maka hilanglah keraguan tentang yang diketahuinya. Diapun menjadi tahu betul dan meyakini sepenuhnya tanpa ada keraguan sedikitpun terhadap apa yang diketahuinya itu. Dan inilah yang disebut Haqqul-Yaqin.

Untuk yang terakhir ini dapat pula dikatakan hal itu berupa pengetahuan yang dapat dirumuskan yang disebut rumusan ilmiah seperti yang telah populer, yaitu siapa saja yang menggunakan resep yang sama, cara dan bahan yang sama, dosis dan alat yang sama, dia akan mendapatkan hasil yang sama pula dan dapat dilakukan kapan saja.

Mungkin ada yang berkata, apa kaitannya penjelasan ini dengan rahasia dibalik doa ? yang kami maksud adalah bahwa doa dapat membuat reaksi pada alam disekitar kita dan akan menimbulkan suatu proses ghaibiyah. Ketahuilah bahwa dalam bidang ini percobaannya tidaklah sama seperti percobaan pada proses kimiawi atau seperti benda-benda fisik yang dapat dimaklumi keadaannya. Sehingga dapat dilihat proses kerja / kejadiannya dengan mata kepala.Berhubung duduk permasalahan ini adalah sesuatu yang tidak ada majasnya dan yang hanya berupa suara yang diucapkan atau berupa sesuatu yang dituliskan, jadi merupakan keghaiban pada manusia. Jadi laboratoriumnya adalah manusia itu sendiri dan mempraktekkannya sendiri dan merasakannya secara bathiniah.

Namun hal ini merupakan hukum pasti dan membutuhkan petunjuk dan guru-guru tertentu yang pengetahuannya telah sampai ketingkat itu. Yang telah mempunyai wewenang tentang hal tersebut, merekalah yang disebut Ulama atau Aulia ahlil kasyaf, Al-Washil Al-Mushil Al-Maftuh Lahu wal Mufattih Lil Akhar, yang dimaksud adalah Kasyaf Suariyah “ Ilmiah Ma’nawiyah Haqiqiah.” Karena ada juga diantara mereka yang mendapatkan kasyaf yaitu terbukanya hijab sesuatu sehingga dapat dilihatnya dengan mata kepalanya yang tidak tampak dimata manusia awam.Dari petunjuk merekalah kita harus meyakini sepenuhnya.

3.Arti Hikmah dan Fadhilah.

Mungkin anda pernah mendengar/membaca “ amalan ini hikmahnya adalah begini-begini …” sebenarnya yang dimaksudkan dengan kata itu adalah bahwa adanya sesuatu yang akan ditimbulkan oleh Amalan itu dan hal itu sudah menjadi semacam ketentuan. Jika hal itu dikerjakan maka akan terwujutlah apa yang dinamakan hikmahnya. Yang berarti apabila ada kalimah (baca:Doa) tertentu diucapkan oleh seorang hamba, maka dari ucapan itu akan terjadilah suatu proses untuk sebuah kejadian. Yang mulai terjadinya setelah Doa itu dilafazkan. Akibat dari doa tersebut itulah yang dinamakan Fadhilah/khasiat. Fadhilah bisa diartikan kelebihan atau kemuliaan atau keistimewaan, dipakai untuk mengungkapkan apa yang Allah jadikan tersirat didalam suatu amalan. Dan itu berarti sudah suatu hukum sebab akibat dan tetap akan berjalan kesemuanya menurut hukum yang berlaku. Pengetahuan tentang ini disebut juga Ulumul Hikmah. Yang Allah katakan “ dan barangsiapa yang mendapatkan Al-Hikmah maka dia telah memperoleh pengetahuan yang banyak.”

Termasuk dalam hal ini adalah Ilmu Pengetahuan, bahkan yang sifatnya jauh dari jangkauan pikiran manusia yaitu hal-hal yang bersifat ghaibiyah, dan cara menguasainya dan mendaya gunakannya. Dalam wawasan inilah didapatnya pengetahuan bahwa melalui pengucapan ayat-ayat Alqur’an , zikir-zikir dengan asma-asma dan doa. Bahwa hal itu dapat merobah suatu keadaan kepada keadaan lain/baru. Doa itu sendiri juga sudah termasuk pula kedalam zikir atau adalah salah satu zikir, malah keseluruhan peribadatan adalah doa dan doa ibarat otak baginya. Ketahuilah bahwa apa yang disebut dan diyakini sebagai suatu Fadhilah adalah nikmat yang tak ternilai yang diberikan Allah kepada hamba-hambanya.

Semoga dengan sedikit penjelasan ini akan menjadi terang permasalahan dan tidak ada lagi yang mengatakan bahwa bidang ilmu ini adalah TIDAK MASUK AKAL. Seterusnya hal ini tergantung kepada diri kita masing-masing. Yang jelas kami sudah memberikan pengertian sejauh apa yang dapat kami terangkan. Hanya sebatas ini yang dapat kami paparkan mudah-mudahan memberi manfaat. “ Bi husnil I’tiqat Tablughul Murad “ Dengan keyakinan yang baik dan sempurna akan dapat meraih apa yang diinginkan.

4.Tanda-tanda Doa Terkabul.

Apakah bisa diketahui bagaimana tanda-tanda terkabulnya sebuah do’a ? sesungguhnya Allah dengan sifat Rahman dan Rahimnya telah memberikan pertanda kepada hambanya yang mau berpikir. Coba saja anda perhatikan, seperti yang sudah diyakini biasanya jika mendung tebal menggantung dilangit tidak lama dari itu akan turun hujan lebat. Atau jika dirumah tiba-tiba ada kupu-kupu yang hinggap diyakini bakal ada tamu. Pertanda ini termasuk dalam ilmu Firasat. Orang jawa biasa menyebutnya ilmu Titen atau niteni !

Kami temukan dalam kitabnya KH. Ahmad Zainuri Rosyid “Al-Jawahirul Hilmiyah”, jus Awal halaman 32-33 jawaban mengenai hal ini. Adapun sebagian dari

tanda-tanda terkabulnya sebuah do’a adalah :
Mempunyai rasa khawatir
Mengeluarkan airmata
Semangat hatinya dalam berdoa
Tenang hatinya
Terasa ringan tubuhnya

Kemudian diterangkan pula orang-orang yang di Ijabah do’anya adalah :
Orang yang terdesak
Orang yang dianiaya
Do’a kedua orang tua
Pemimpin yang adil
Orang yang sholeh
Do’a anak yang berbakti pada orang tua, guru dan mertua.
Do’anya musafir
Do’anya orang yang berpuasa
Do’anya orang yang sakit
Doanya orang yang jihat fi sabilillah
Do’anya orang yang merutinkan mandi fajar dan melaksanakan sholat fajar.
Doanya orang yang pergi haji sampai kembali kerumah 40 hari

Sebagian dari syarat-syarat terkabulnya sebuah do’a
Taubat sebelum berdo’a
Mengembalikan sesuatu yang bukan haknya
Menjalankan perintahnya dan meninggalkan larangannya
Benar ucapannya / dapat dipercaya ( jujur )
Tidak tergesa-gesa untuk dikabulkan.
Yaqin do’anya di ijabah
Konsentrasi dalam permintaannya
Tidak meminta sesuatu yang dilarang syariat
Tidak meminta sesuatu yang mustahil

5.Mengapa Doa Tidak di Ijabah ?

Pada suatu hari Sayidina Ali Karamallaahu Wajhah, berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).

Sayidina Ali menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu :
Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada manfaatnya keimananmu itu.
Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu?
Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan. Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya.
Engkau takut kepada neraka, tetapi setiap saat kau dekati neraka dengan maksiat-maksiatmu. Lalu dimana rasa takutmu ?
Engkau menginginkan syurga, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukti keinginanmu itu?
Setiap saat sengkau merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya.
Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan bersahabat dengannya.
Engkau jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kau sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada dia.

Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut. Bertaqwalah kepada Allah, shalihkan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.

6.Jihad Doa
Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki datang kepada Imam Ja’far Ash Shiddiq, lalu berkata, “Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku tidak paham apa maksudnya ?”

“Bagaimana bunyi dua ayat itu?” Tanya Imam Ja’far.
“Yang pertama berbunyi “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min [40] : 60).“ Lalu aku berdo’a dan aku tidak melihat do’aku diijabah,” ujarnya.
“Apakah engkau berpikir bahwa Allah akan melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja’far.
“Tidak,” jawab orang itu.
“Lalu ayat yang kedua apa?” Tanya Imam Ja’far lagi.

“Ayat yang kedua berbunyi “Wamaa anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifuhuu, wahuwa khairun raaziqin” (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba [34] : 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya,” ujarnya.
“Apakah kamu berpikir Allah melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja’far lagi.
“Tidak,” jawabnya.
“Lalu mengapa?” Tanya imam Ja’far.
“Aku tidak tahu,” jawabnya

Imam Ja’far kemudian menjelaskan, “Akan kukabarkan kepadamu, Insya Allah seandainya engkau menaati Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepadamu, kemudian engkau berdo’a kepada-Nya, maka Allah akan mengijabah do’amu. Adapun engkau berinfak tidak melihat hasilnya, kalau engkau mencari harta yang halal, kemudian engkau infakkan harta itu di jalan yang benar, maka tidaklah infak satu dirham pun, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau engkau berdo’a kepada Allah, maka berdo’alah kepada-Nya dengan Jihad Do’a. Tentu Alah akan menjawab do’amu walaupun engkau orang yang berdosa.”

“Apa yang dimaksud Jihad Do’a?” sela orang itu.

“Apabila engkau melakukan yang fardhu maka agungkanlah Allah dan limpahkanlah Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Kemudian, bacalah shalawat kepada Nabi SAW dan bersungguh-sungguh dalam membacanya. Sampaikan pula salam kepada imammu yang memberi petunjuk. Setelah engkau membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah engkau peroleh.Kemudian engkau ingat-ingat sekarang dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu dihadapan Allah. Akuilah apa yang engkau ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tak kau ingat.

Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang kau perbuat dan niatkan bahwa engkau tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan dengan penuh keikhlasan serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.Kemudian bacalah, “Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku meminta ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku segala hal yang engkau ridhai. Karena aku tidak melihat seseorangpun bisa menaklukkan kekuatan kepada-Mu, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Aku berharap Allah tidak akan menyiakan do’amu,” papar Imam Ja’far.***

Disarikan dari kitab :
Al Qirthas, syarah Ratib Al Atthos /

Habib.Ali bin Hasan Al Atthos
Almakhroju minal musykilati wadzofaru bil hasanati /

Habib.Muhammad bin Ali Syihab
Al `Athiyyatul Haniyyah wal wasiatul Mardhiyyah /

Habib.Ali bin Hasan Al Atthos
Nasihat Spiritual, Mengenal Tarekat Ala Habib Lutfi bin Yahya/

Fahmi Jindan
Al Ijazat minal Masyaayikhi wal Habaib Al Kirom

=== Selesai syarah wirid dan Doa ===



Mabes Laskar Khodam Sakti

Jl. Elang Raya , Gonilan, Kartasura

Solo, Jawa tengah
WA +6285879593262