HATI IKHLAS ADALAH KEKUATAN TAK TERKALAHKAN

Bebukaning Atur

Catatan Misteri Nabi Khidlir AS

 “Ilaa Hadlrati kiram, Balyan Ibn Malkan, Nabiyullah Khidlir Alaihi Salam, al Fatihah …”

 Adalah beliau, termasuk hamba-hamba Allah yang ditangguhkan. Allah memilihnya untuk mandi di telaga kehidupan, dan meminum airnya. Melalui beliau, konon, seseorang secara resmi dilantik menjadi seorang wali. Seperti kisah Imam Abul Hasan Qs, yang ditemui oleh beliau pada saat sholat jum’at, dan tiba-tiba beliau menceritakan pengalaman ruhani yang baru saja dialami Imam Asy Syadzily Qs, yang mendapat uang dari alam ghaib dan membagi-bagikannya kepada faqir miskin.

Saat saya kecil, saya gemar sekali bersalaman di masjid, dan meraba ibu jari tangan setiap orang, yang kalau jempol itu tidak memiliki tulang, maka katanya itulah Nabi Khidlir, AS. Kebetulan ada. Dan saya hanya membatin, tersenyum, beliau pun membalas tersenyum, dan tidak ada yang beliau sampaikan. Belakangan eh, ternyata, orang itu salah satu dari penduduk desa saya yang memang kebetulan ibu jarinya tidak memiliki tulang.

Kerinduan saya untuk bertemu Khidlir AS, belum bisa terpuaskan. Barangkali takkan pernah. Pernah saya mengunjungi sebuah makam berkuncup yang menyendiri di tepi sungai Logawa. Disana tertulis, Makam Ki Ageng Mbilung. Ada seseorang pelaku rialat di makam tersebut mengatakan, bahwa sebenarnya Ki Ageng Mbilung itu nama jawa, yang sebenarnya adalah Nabi Khidlir. Saya hanya mengangguk, tanpa membenarkan maupun menyalahkan. Akhirnya, dalam hati saya hanya bisa berpasrah kepada Allah, biarlah Allah yang menentukkan. Jika memang saya pantas dipertemukan dengan beliau, pasti lah tidak aka nada yang bisa menghalangi karunia tersebut. Namun, meski saya sudah berusaha dengan segala macam laku, jika saya memang belum pantas, maka takkan pernah ada yang menemui saya.

Yang jelas, ditemui maupun tidak, tidak ada kerugian bagi saya. Allah tidak menyuruh kita untuk berusaha mencarinya. Allah hanya memberikan kita tugas pengabdian yang penuh ketekunan, memperdalam keikhlasan, dan memurnikan tauhid kita dari segala macam belenggu. Jika memang ada tugas setelah itu, pastinya itu akan diberikan pada saat kita siap menerimanya. Entah itu melalui perantara Nabi Khidlir AS, atau hamba Allah yang lain, pastinya setelah kita dipandang sanggup untuk melaksanakan suatu maksud. Tidak ada pertemuan yang tanpa maksud, tidak ada maksud tanpa tuntutan sebuah tanggung jawab.

Jika kita hanya ingin ‘keren’, dengan pertemuan semacam itu, takutnya hal itu malah akan semakin menguatkan keakuan kita, dan memperkeruh kemurnian tauhid kita. Bukan kedekatan kepada Allah yang didapatkan, malah kita akan semakin jauh dari Nya.

Ada kisah yang menarik berkaitan dengan Nabi Khidlir AS, diriwayatkan bahwa beliau pernah selama empat puluh hari belajar fiqh kepada Imam Abu Hanifah R.A. Setiap ba’da Shubuh. Dalam renungan saya, ini sungguh sesuatu yang perlu mendapat perhatian. Bahwa seorang yang makrifat dan hakikatnya telah sempurna pun, tetap membutuhkan belajar syariat kepada ulama ahli fiqh. Pengertian ini kemudian saya talikan dengan sabda Nabi SAW, bahwa, andai Musa AS, hidup di zamanku (Nabi SAW), maka pasti ia mengikuti syariat Nabi SAW. Kemudian, sabda Nabi SAW, bahwa ulama’ lah yang menjadi pewaris para Nabi, bukan para wali atau orang-orang yang ahli ‘irfan. Bahkan kedudukan ulama-ulama dalam Islam disetarakan dengan kedudukan Nabi-Nabi bani Israel. Jika demikian, masihkah kita memandang sebelah mata kepada ilmu fiqh? Kepada ulama ahli fiqh? Dimana Khidlir AS (yang kita begitu rindu bertemu dengannya) pun masih membutuhkan ilmu dari Imam Abu Hanifah? Apakah kita akan menganggap sepele kitab-kitab seperti safinah, sulam taufiq, yang tidak menjanjikan keajaiban apapun, kecuali sekedar sah dan tidak sah, dan kita begitu tergetar memegang Mambaul Ushulil Hikmah, dan Khazinatul Asrar? Saya teringat dengan kisah teman saya yang mondok di Ploso, disana katanya tidak boleh mengamalkan amalan hikmah, santri harus fokus mengaji kitab dan menghafal bayt-bayt nadhom. Istiqomah dalam sebuah amalan lebih baik dari seribu karomah, maka istiqomah yang dimaksud adalah istiqomah dalam ngaji. Saya pun terngiang-ngiang ungkapan Abuya Dimyati Banten, yang dengan kerendahan hati mengatakan, “Thariqah saya mah, Ngaji”, (jalan thariqat beliau hanyalah ngaji dan ngaji). Saya juga pernah mendapat kisah tentang seseorang yang memiliki ilmu hikmah tenaga dalam tinggi, ternyata tidak kuat (terpental) menghadapi seorang penghafal matan alfiyah.

Bagi saya, ada kekuatan maha dahsyat yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan hikmah apapun, baik itu dari khodam atau apapun. Kekuatan itu adalah hati yang dipenuhi keikhlasan. Karena dalam hati seperti itulah, Allah ‘Azza Wa Jalla, pemilik semua kekuatan, bertahta dengan kokohnya. Siapa berani melawan Allah? Siapa yang berani melawan orang yang hatinya hanya ada Allah? Semoga kita tidak tertipu dengan mengejar sesuatu yang bukan kewajiban kita, sementara kewajiban kita sendiri kita lupakan. Wallahul Musta’an.

 Catatan Memburu Khodam Sakti

 Membahas khodam bagi saya seperti meraba di kegelapan. Saya sendiri tidak pernah tahu seperti apa wujudnya, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan manusia. Ya, karena memang kebetulan saya bukan orang sakti. Hanya dari beberapa bacaan, yang saya tahu bahwa setiap manusia memiliki khodam nya masing-masing. Memang istilah khodam, menjadi demikian angker kedengarannya. Terbayang bahwa, yang namanya khodam itu makhluk yang melayani manusia dengan syarat atau imbalan tertentu, yang jika tidak dipenuhi syaratnya, maka bisa ngamuk dan mencelakakan si empunya. Terbayang juga, bahwa nantinya, si empunya khodam akan mengalami kesulitan tatkala sakaratul maut, untuk lepasnya ruh, gara-gara si khodam itu. Jika seperti itu, ngeri rasanya memiliki khodam. Apalagi jika kita berpikir secara gengsi-gengsian, agaknya kesaktian yang dimiliki seseorang karena punya khodam, seperti kesaktian pinjaman, tipu muslihat, artinya yang sebenarnya sakti itu khodamnya, bukan kita. Nah, berpikir seperti itu, lantas timbul keinginan mencari kesaktian yang sejati, yang tanpa khodam, dan tidak berefek bencana, tuntutan ini itu, maupun kesulitan menghadapi sakaratul maut. Jika kita renungkan, sebenarnya manusia itu ya ingin apa-apanya serba mudah, dengan hasil spektakuler, dan tidak ada efek samping.

Saya teringat, dulu saat kecil, di mushola saya, teman-teman pernah lagi hobi-hobinya janturan. Yakni memasukkan indang tertentu, entah macan, kera, kijang, dan sebagainya, lalu ada yang bertugas menyembuhkan. Semakin sulit disembuhkan, semakin asyik permainan itu. Saya sendiri menjauh dari teman-teman, karena merasa itu tidak pas dengan keyaqinan saya. Entah dari mana mereka mendapatkan cara-cara semacam itu, bahkan katanya pake tawasul segala. Mereka berlomba mencari dan mendapatkan indang yang kuat, yang menangan. Ada yang cerita ke makam ini, ke tepi sungai itu, dan lain-lain. Trend semacam itu ternyata meluas, bahkan sampai teman-teman SMP saya, dulu juga hobi pamer indang di sekolah. Saya yang sering disebut kyai oleh teman-teman, juga menjadi referensi, meski sebenarnya saya tidak tahu apa-apa. Ada yang katanya indang miliknya kepengin ikut saya, karena saya rajin sholat. Saya, pokoke wis mbuh, ngga urusan, yang penting saya ngga minta diikuti indang. Mereka merasa keren, jika memiliki indang.

Belakangan, murid-murid halaqoh saya juga cerita, katanya di pondok diajari semacam itu. Gara-gara nya ada seorang santri yang diganggu oleh dukun atau apa gitu, dan tidak bisa ngatasi, maka sama Abah Kyai, disuruhlah seorang ustadz yang jago khodam, untuk membangkitkan khodam masing-masing santri dan melatih cara untuk mengendalikannya. Saya hanya tertegun dan ketika ditanya, apa saya bisa mengajari mereka, saya pun menggeleng.

Manusia selalu berikhtiar untuk mengatasi segala macam problema hidup, dan mencari jalan aman agar kehidupannya bisa terhormat dan sentosa. Kesaktian, barangkali merupakan salah satu yang paling banyak dicari manusia, untuk mewujudkan kehormatan dirinya. Eksistensi selalu menarik untuk dibahas. Dalam kasus apapun, latar belakang untuk menjadi seorang yang eksis selalu ada. Seperti saya ini, memakai nama Ki Ageng, biar kelihatan eksis, to? Orang menulis pun pada dasarnya untuk memberitahu keberadaan dirinya, bahwa ‘aku ada’, dan aku memiliki sesuatu untuk diberikan. Problem eksistensial merupakan problem akut yang menjalari kehidupan manusia dari sejak zaman pra sejarah, bercocok tanam, hingga industri, kemudian yang terbaru adalah zaman media telekomunikasi. Soal perang dan penjajahan, apalagi kalau bukan problem eksistensial? Kapitalisme global, hegemoni, wah apa pula itu, dan seabreg isu-isu internasional, tak pernah lepas dari problem eksistensi. Hal ini, karena manusia menyadari bahwa hidupnya berada di tepi jurang ketiadaan (kematian), maka ia harus memutuskan, bahwa dalam pentas yang singkat itu, ia harus menjadi lakon tanpa tanding, terhormat, dan unggul.

Inilah kenapa, perlunya Allah menekankan iman kepada kehidupan akherat. Dengan meyakini bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan mempercayai bahwa dalam kehidupan itu keadilan akan ditegakkan seadil-adilnya, maka manusia diharapkan tidak terlalu ‘bertingkah’, mempertontonkan kecemasan yang mewujud dalam segala macam tindakan ingin mengungguli yang lainnya. Betapa seseorang yang mencari kesaktian itu sebenarnya adalah orang yang cemas bahwa hidupnya banyak terancam. Saya harus sakti, agar jika ada yang mengganggu saya, akan saya kalahkan dengan mudah. Klausa, “agar jika ada yang mengganggu” bukankah bentuk ungkapan kecemasan? Klausa itu bisa diganti yang lain, apa misalnya, “agar bisa menegakkan keadilan, agar bisa menolong yang teraniaya, agar bisa membela kebenaran”, kebenaran kok dibela? Coba ditelisik. Bayangan bahwa dunia dipenuhi ketidakadilan, dipenuhi penganiayaan, dipenuhi keburukan, sedemikian parah menghantui kita. Itulah yang tanpa kita sadari, merupakan kecemasan-kecemasan yang ujungnya bisa menjadi depresi. Ada memang, orang-orang yang selalu melihat sisi gelap dunia, namun saya lebih yaqin, bahwa masih banyak manusia yang mampu melihat terangnya sang surya.

Kecemasan, jika kita memandangnya lebih jauh, pangkalnya adalah ketakutan terhadap kematian. Dan itu tidak disadari. Ketidaksadaran itu setali dengan semakin bertumbuhnya kecintaan kita terhadap dunia. Jika sudah demikian, hendaknya kita melihat lebih dalam tentang makna dan arti menjadi manusia, makna dan arti menjadi hamba. Hamba pasti punya majikan, dan majikan pasti akan selalu melindungi si hamba, selama si hamba patuh dan salalu ta’dhim kepada sang majikan.

Saya kembali teringat, kaidah emas dalam suluk, “tidak ada jalan tercepat menuju Allah selain jalan khidmat”. Khidmat atau melayani dengan penuh ketulusan adalah suluk jalan terabas, yang bisa diterapkan di dalam apapun. Mencuci mobil, menyapu halaman, membalik sandal Abah Kyai, hal-hal kecil itulah yang seharusnya menjadi sumber kesaktian kita. Mari, rame-rame, daripada susah-susah memburu khodam, lebih baik jadikan diri kita khodam bagi keluarga, khodam bagi masyarakat, dan khodam bagi sebanyak-banyak manusia. Ini ceritaku, apa ceritamu, Dam?

 Catatan Tentang Ilmu Pelet Paling Mujarab

 Pelet, pengasihan, dan semacamnya, sampai sekarang masih saya anggap sebuah kekejian, paling tidak semacam tindakan pengecut yang jauh dari terhormat. Apapun cara dan medianya. Ini lebih kepada pertimbangan perasaan daripada pertimbangan hukum syara’. Soal hukum, saya tidak ingin berdebat lebih jauh, apalagi lebih dalam. Namun, rasa-rasanya, pelet, pengasihan, dan semacamnya, bagi saya adalah penghinaan terhadap keagungan cinta. Jujur, saya seorang pemuja cinta. Ah, tidak ada yang lebih indah dari penyatuan sepasang insan yang saling jatuh cinta. Getaran-getaran cinta bagi saya merupakan zikir yang sungguh asyik.

Saat hati begitu terliput oleh cinta, semuanya menjadi baik, rasa sakit berganti nikmat, rasa susah berganti senang. Semua orang tidak ada yang jahat, semuanya dimaafkan, ketika hati begitu terliput oleh cinta. Pernikahan sepasang kekasih yang saling mencintai adalah peristiwa agung nan bersejarah. Allah menyebutnya dengan “perjanjian yang berat”. Karena bukan aku yang dicintai dan kau yang mencintai, melainkan Dia yang mencintai DiriNya sendiri, lewat aku dan kau.

Kok, tiba-tiba dirusak oleh pelet, pengasihan, dan semacamnya, sungguh tidak beradab, dan sangat tidak sopan.

Kenapa tidak kita biarkan seseorang mencintai kita apa adanya, dan kita mencintainya dengan tulus. Oh, ini pasti soal kedewasaan dalam memahami cinta. Pelet, pengasihan, dan semacamnya, berasal dari kaidah bahwa cinta harus berbalas, baik suka rela maupun terpaksa. Ini kaidah cinta yang usang dan kekanak-kanakan. Orang-orang yang menggunakan kaidah ini, mereka pasti tidak memiliki cinta sebagaimana ‘cinta’, tidak ada ketulusan cinta, dan mereka tak mengerti apa itu cinta dan bagaimana caranya mencintai. Telak bukan?

Mencintai adalah proses yang seutuhnya keluar, terus menerus, tanpa ada proses pengembalian. Karena cinta adalah cahaya, maka tugasnya hanya memancar, bukan mengumpulkan. Cinta hanyalah memberi, tak pernah mengharap kembali, apalagi memiliki. Engkau mencintai karena engkau berharap orang yang kau cintai memberimu cinta, betapa itu penuh syarat? Betapa itu mirip jual beli, bukan cinta! Kenalilah cara Allah mencintai hamba-hambaNya, belajarlah untuk mencintai sebagaimana caraNya mencintai kita.

Jika sudah seperti itu, masih butuhkah pelet, pengasihan, dan semacamnya? Pengasihan terampuh, adalah cinta yang ikhlas. Justru, tatkala engkau membiarkan, ia akan mendekat, dan semakin dekat. Inilah asal mula kaidah, “semakin dikejar, semakin jauh ia berlari, semakin keras usahamu, semakin kuat daya tolaknya, namun ketika hatimu ikhlas dan melepasnya, ia tiba-tiba lengket ke peraduan.” Saya sudah membuktikan, dan saya tantang Njenengan untuk membuktikan kaidah itu. Rahayu!

Khatimah

 Demikian, barangkali semua itu merupakan celotehan saya yang tidak berilmu. Tidak ada maksud apapun, melainkan sekedar berbagi unek-unek, mengajak untuk melihat ke kedalaman jagad batin kita, untuk kesejatian yang benar-benar sejati. Lepas dari itu semua, lakukanlah apa yang merasa harus Njenengan lakukan, tidak perlu merisaukan kata-kata saya jika Njenengan tidak yaqin akan kebenarannya, akan tetapi sedikit saya hanya berpesan, “Jangan pernah menghindar atau melawan dari bisikan nurani dan akal sehat, karena dari situlah titik awal pemberangkatan kamanungsan kita melintasi kasunyatan dalam nggayuh kasampurnan.”

Untuk siapapun yang Allah persiapkan memimpin bangsa Indonesia yang Spiritual, Jaya, dan Sejahtera, ataupun bagi mereka yang hanya sekedar ingin memimpin dirinya sendiri, saya persembahkan rapal aji kasatrian berikut ini:

 “Ingsun amatek ajiku, si aji kasatrian, aji sejati, sejatining aji. Aji jati satria, hamengku buwana, satria rahsa, satria budhi, satria mijil, yun prakerti. Yo satria mukti, yo satria wahyu, ya iku ingsun, satria kang mandhita, jati-jatining satria.”

 @




Mabes Laskar Khodam Sakti

Makamhaji RT 01/RW 03 Kartasura
(Selatan RS Yarsis solo)
Solo, Jawa tengah
PIN BBM D08153AC

koin banyak hoki1000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *